pages

April 28, 2012

Evangelism VS Social Concern ??

Black Evangelicals, White Evangelicals, and Franklin Graham's Repentance

When Franklin Graham expressed doubts about President Obama’s Christian faith during an interview on Morning Joe last week, it reminded me of an uncomfortable dinner I had in the late ‘90s.

I sat down for a pleasant meal in the home of two great friends — one of them a white evangelical faith leader deeply committed to social justice. Well into the evening’s conversation — when we’d dropped all our pretenses and our exchanges moved well past mealtime niceties — one friend asked me something that caught me entirely off guard.
“Do you think Martin Luther King, Jr. was a Christian?” he said.
I was dumbstruck. I had never heard anyone actually ask that question before.
“Yes,” I replied. “What would make you doubt that?”
As he explained, it became clear: My friend wasn’t sure whether Dr. King was a Christian because King’s Christianity didn’t look like my friend’s Christianity.
Dr. King valued justice. My friend valued justice.

King professed personal faith in Jesus. My friend professed personal faith in Jesus.
And yet my friend still was hung up about King’s faith because, to his eye, King didn’t seem interested in “evangelism” as my friend defined it — i.e. the practice of calling sinners into personal relationship with God through faith in Jesus Christ, whose death on the cross is payment for our sins.

Twentieth-century white evangelical understanding of the Gospel guided (and in many ways defined) my friend’s Christian walk. Therein lies the disconnect between his Christian faith and Dr. King’s.
According to sociologists Michael Emerson and Christian Smith (authors of Divided by Faith: Evangelical Religion and the Problem of Race in America), only one thing separates white and black evangelicals, but it makes all the difference in the world: Vastly different experiences of structural and systemic oppression.

Black evangelicals have a long history of interaction with oppressive systems and structures. When African Americans read the Bible, they see the more than 2,000 passages of scripture about God’s hatred for poverty and oppression. They see God’s desire for systems and structures to be blessings to all of humanity — not a curse to some and a blessing for others.
And they see Jesus’ own declaration that he had come to preach good news to the poor, which, by the way, is decidedly not a reference to the “spiritually impoverished.” Jesus meant that he had come to preach good news (of liberation, freedom, and new life) to people trapped in material poverty.

White evangelicals generally do not experience such systemic oppression. According to Emerson and Smith, most white evangelicals don’t prioritize or even see the thousands of references in the Hebrew Scriptures and New Testament about structural and systemic injustice.

Accordingly, the Gospel — and by extension their evangelism — is about only one thing: Personal salvation through faith in Jesus Christ, who died for their sins, and a personal relationship with him.
Black evangelicals also have personal faith that Jesus’ death paid for their sins, but their Gospel doesn’t end with personal (and individual) salvation. For Dr. King and Sojourner Truth and Fannie Lou Hamer and the Rev. John Perkins and Nelson Mandela and for hundreds of thousands of Black Christians around the world and for me, the good news of the Gospel is that Jesus’ life, death, and resurrection were for the redemption of both individual souls and the redemption of whole societies.

Franklin Graham’s father, Dr. Billy Graham, didn’t always understand this, either. The elder Graham’s revivals began as segregated affairs, but the Supreme Court’s desegregation ruling in Brown v. Board of Education of Topeka (1954) agitated his conscience and he quickly course corrected. From that point on, Billy Graham never again held a segregated revival.

What’s more, in 1957 Dr. Graham invited Dr. King, to share his pulpit for a 16-week revival in New York City.
For Billy Graham, Martin King was a Christian.
In the last decade or so, a new generation of white evangelicals — such as my friends Shane Claiborne, Kelly Moltzen, Josh Harper, and others — have intentionally displaced themselves, moving into impoverished communities of color in order to gain the experience their parents and grandparents lacked. As a result, their white evangelical eyes are open.
They see those 2,000 scriptures about poverty and injustice. And this new generation of white evangelicals is committed to fight systemic and structural justice because of the Gospel.

So, it grieved me to hear Franklin Graham’s doubt-filled commentary on President Obama’s faith.
Obama has described in his own words (and quite publicly) how he has a personal relationship with Jesus Christ, how as a young community organizer in Chicago in the late ‘80s he walked down the aisle of a church during an altar call to make a public profession of that faith — a practice developed by one of the greatest American evangelists of all time, Charles Finney.

The president has clearly professed his belief that Jesus died on the cross as payment for his sins. And Obama repeatedly invokes the words of Jesus that guide his world view: “Just as you did to the least of these, you did to me.” (Matthew 25:40)
For a moment, Franklin Graham’s cynicism tested my own faith. I wondered if he had any idea that, when he questioned the president’s faith, it felt as if he were questioning my faith.

I wanted to know if the transformational power of Jesus’ death and resurrection, which is powerful enough to save our souls also could open Franklin’s eyes and soften his heart to the world and experience of his black brothers and sisters.
Repentance is sweet, not only for the sinner, but also for the world. It reminds us all of what is right; what is good; what is true. Franklin Graham apologized for his comments and repented this week.
This public discussion is now a lesson for us all. I have an abiding hope that, just maybe, the power of Jesus’ resurrection is powerful enough even to save the church.

Written by Lisa Sharon Harper is the Director of Mobilizing at Sojourners. She is also co-author of Left, Right and Christ: Evangelical Faith in Politics and author of Evangelical Does Not Equal Republican ... or Democrat.

March 28, 2012

26: Beyond my Understanding

Mazmur 103:15, 16 
“Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.”

Mengingat Nats ini memberikan peringatan mendalam, mengenai hari-hari hidup yang sudah saya lalui. Sepertinya kesempatan menjadi dan berbuat yang terbaik hanya hari ini. Sangat takut melewatinya tanpa Tuhan. Perlu memastikan hari ini apa yang saya lakukan berkenan di hati-Nya. Sekaligus membuka refleksi Ulang Tahun ke-26 ini.

Bunga rumput muncul sebentar saja, dan akan menghilang. Waktu yang sebentar itu, telah berkurang setahun tepat pada hari ini. Dan di hadapan saya terbentang beberapa keputusan besar yang dimulai dari sebuah langkah awal yang besar. Sejak tahun lalu berpikir, mendoakan dan menimbang segalanya. Bahkan sampai saat mempersiapkan kepindahan ke Denpasar, masih terus berdoa dan bertanya:

Siapkah dengan segala kemungkinan terburuk yang 'mungkin' terjadi? 
Mengapa harus memulai sesuatu dari nol, sesuatu yang belum tentu ada hasilnya, di tanah asing? Ini kan mimpi yang menjadi kenyataan, jangan sia-siakan kesempatan album rohani ini! Bodoh, siap-siap menyesal kalau meninggalkan Surabaya..
Apakah ini jalan terbaik yang harus ditempuh?? Pikir mudah apa mendapatkan komunitas rohani yang saling mendukung seperti yang kamu miliki di sini!! Kehidupan yang lebih plural dan pergaulan yang hedonis. 
Apakah ini waktu yang tepat? Bagaimana kalau ini keputusan besar yang fatal?? Awas terjerumus secara perlahan-lahan ke dalam cara hidup yang tidak benar dan justru kehilangan Tuhan di sana.
Bagaimana kalau digosipkan yang tidak benar, bukankah tidak menjadi kesaksian.. 
Bagaimana kalau sampai pada akhirnya keluarga tidak mendukung dengan berbagai alasan, apakah tetap mau dipaksakan..??

Pertanyaaan dan pernyataan ini senantiasa mengantui saya dan membuat semua konfirmasi-konfirmasi kecil yang menguatkan saya menjadi tidak berarti karena ketakutan itu selalu saja datang mengganggu saya. 

Hanya karena saya tidak mengerti (kurang cukup alasan) mengapa harus pindah ke Denpasar, saya tidak berhak menentukan bahwa Tuhan mungkin keliru dengan memberikan kekuatan-kekuatan kecil yang menjawab segala pertanyaan untuk memantapkan langkah saya menuju Denpasar. Saya sangat menyadari petunjuk-petunjuk itu datang dari-Nya, Akan tetapi, bila saya mulai mempertimbangkan pro dan kontra, kemudian perdebatan masuk ke dalam pikiran, maka yang saya temui adalah pertimbangan-pertimbangan yang sama sekali tidak menunjukkan unsur pribadi Allah (Iman, Pengharapan, Kasih, Kebenaran).

Misi Hidup VS Pasangan Hidup
Saya berada di dalam dua sisi yang berbeda tipis. Ada gagasan-gagasan tentang pergumulan ini yang tidak sesuai dengan hukum idealisme yang selama ini saya bangun lewat berbagai pengetahuan dan dogma yang saya terima. Yang paling utama adalah gagasan saya tentang pasangan hidup. Bahwa saya seharusnya digerakkan oleh misi hidup bukan pasangan hidup. Pasangan hidup itu pelengkap, yang utama adalah misi hidup. Dan sama sekali tidak mengijinkan kemungkinan pasangan hidup itu termasuk dalam misi hidup yang saya perjuangkan. Saking begitu kentalnya, saya membutuhkan hampir setahun untuk benar-benar memutuskan hal ini.

Tuhan.. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan di Denpasar.. Yang  pasti yang harus saya lakukan adalah bekerja, terlibat dalam pelayanan, dan mengembangkan talenta bernyanyi..
Namun, pikiran saya tidak mengijinkan agar rencana di atas dapat ditrima sebagai pendukung kepindahan saya. Dan akhirnya, waktu untuk memilih itu mendesak dan harus di tentukan. Tak dapat ditunda lagi. Kontrak rekaman album rohani atau pindah ke Denpasar? Masing-masing dengan konsekuensi jangka panjang yang mengikat. Bertambah getir-lah hati saya.

Diam dalam keheningan dan tetap tekun latihan menyanyi, tetap bekerja, tetap berdoa, tetap mempertanyakan. Waktu-waktu di atas angkutan umum (angkot) menuju latihan menyanyi adalah waktu yang tepat untuk merasa bimbang dan berdoa. Melihat semua frame kehidupan yang berlalu di sisi kanan kiri jalan. Menanti dengan sabar kapan jemputan teman tiba sambil trus merasakan bahwa Dia hadir dalam segala kejadian sederhana dalam segenap kehidupan saya. Dan perenungan terhadap pertanyaan sederhana muncul di dalam kediaman yang paling hening..

Pelajaran Iman dari Petrus
Iman bukan pengertian intelektual. Iman adalah janji sukarela untuk tetap setia kepada Pribadi Yesus. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Walaupun saya tidak dapat melihat jalan yang terbentang di depan. Kisah Petrus dan murid-murid di atas perahu yang dilanda gelombang. Ketika ketakutan melanda karena angin sakal itu, sosok Yesus muncul di atas air.

Petrus melihat Yesus. Ia mengenal Yesus dan tak ada keraguan bahwa itu adalah Tuhan-nya yang senantiasa bersamanya setiap hari. Ia yakin ia berjalan menuju Tuhan-Nya walalupun langkah yang akan diambilnya terlihat 'tidak masuk akal'. What?? Berjalan di atas air?? Orang percaya yang bertanggung jawab adalah orang percaya yang berani masuk dan menghadapi tantangan seperti ini. Murid-murid yang lain, tetap berada di dalam perahu dan semakin takut. 

“Berjalan di atas air bukan berarti lari dari persoalan dan ingin mencari posisi yang lebih aman. Sebab tatkala Petrus berjalan di atas air anginnya masih ada. Resikonya adalah, kalau di tengah perjalanan itu ia lengah, maka ia akan kalah.“ Matius 14:30 mencatat bahwa Petrrus tenggelam justru bukan pada saat berada di perahu dengan angin sakal itu, tetapi karena tiupan angin setelah keluar dari perahu. Ia tidak memusatkan perhatiannya pada Tuhan Yesus, maka ia harus bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Ia tenggelam.  
Diam di atas perahu seperti murid-murid yang lain ATAU berjalan di atas air seperti yang dilakukan Petrus adalah pilihan iman. Yang salah adalah ketakutan itu. Dan dengan gamblangnya, suara hati saya menjawab pertanyaan saya. Pilihan untuk menerima kontrak rekaman album dan pindah ke Denpasar adalah pilihan iman. Dengan penyataan khusus yang terus menjawab ketakutan saya dan menyertakanNya dalam proses berpikir/menimbang semua kesempatan dan konsekuensi, saya semakin diperdamaikan dengan semua konflik dalam diri. Saya siap menghadapi dan bertanggung jawab di dalam Iman atas keputusan saya. Semuanya dapat saya hadapi, bahkan segala kemungkinan terburuk, dapat di jalani dengan kekuatan penyertaanNya yang slalu terbukti dan tidak pernah gagal. Pertanyaan  reflektif yang jujur yang diungkapkan oleh orang-orang yang mengasihi bahkan sampai ejekan/sindiran/penyepelehan orang lain atas pergumulan saya justru telah memurnikan sgalanya.
Dan saya semakin yakin, jika hidup saya selaras dengan kehendak-Nya, maka meski saya tidak tahu apa yang akan terjadi, saya pasti memiliki naluri tentang arah yang benar. Dengan keberanian dan kepercayaan diri, saya dapat terus maju. Tanpa takut tersesat, saya  tahu bahwa setelah melalui badai dan ketidakpastian, saya akan tiba di tempat yang benar. 

Mengarahkan Pandangan, Menetapkan Langkah
  
Sebuah keputusan yang tepat bukan dinilai pada saat ini, melainkan akan diuji oleh sang waktu. Membahas pro dan kontra, saya lebih mengutamakan menjelaskan pergumulan keputusan ini kepada orang yang bertanya secara langsung, teman-teman terdekat, keluarga. Saya berusaha membuat mereka mengerti dengan penjelasan sederhana dan terbaik yang bisa saya berikan. Namun ternyata, seberapa baiknya berusaha menjaga kelakukan, sikap dan kata kita untuk slalu bersih tak dapat mengagalkan pernyataan dan komentar negatif orang lain. Dan sejenak saya kembali frustasi dengan konsekuensi ini. Namun, ayat ini kembali menguatkan saya.


Akuilah DIa dalam segala laku-mu, maka Ia akan meluruskan jalan-mu - Amsal 3:6
Serasa berada di satu titik petualangan baru yang mendebarkan. Dengan mengabdikan diri pada Tuhan, berjalan bersama-Nya, mengakui-Nya dan karya kebesaranNya akan membuat saya mantap. Apapun itu, konsekuensi apapun itu, semua ada dalam kedaulatan-Nya. Siapapun bertanggungjawab dengan pilihan-nya kepada Tuhan. Selama Ia beserta-ku, saya + TUHAN adalah mayoritas. Kehadiran-Nya.. Pengertian-Nya.. Pimpinan-Nya cukup untuk mengantar saya mengalami petualangan-petualangan iman lainnya.

Ulang Tahun yang Berbeda 
Saya mengikuti sebuah Persekutuan Doa di malam tanggal 28 Maret. Diberikan kesempatan untuk bersaksi lewat pujian. Saya memilih lagu berjudul 'Karya Terbesar' yang mengungkapkan betapa bersyukurnya saya atas Karya Terbesar Tuhan yang dilakukan dalam hidup saya. Kemudian, didoakan oleh pembawa Firman. Satu kalimat yang keluar dari mulut pembawa Firman tersebut kepada saya:

Maya.. Tetap menjaga hati supaya rendah hati.. Teruslah memuji kebesaran Tuhan.. 
Terus bernyanyi.. Dimanapun kamu berada kamu akan dipakai Tuhan..

Kata Ibu Laura (pemilik rumah tempat persekutuan), rasanya persekutuan hari ini memang disiapkan Tuhan untuk Ulang Tahun-nya Maya, karena ia biasanya hanya menyajikan makanan ringan seperti kue dan gorengan. Namun pada hari ini, ia memasak mie goreng spesial  + cap cay dan kami bersama-sama menikmati makanan super lezat itu.

Sambil menikmati makanan itu, saya rasanya ingin menangis. Menangis karena bahagia berada di tengah orang baru namun merasa hangat dengan kasih Tuhan. Menangis karena sedih harus berdebat dengan keluarga mengenai masalah kepindahan ke Denpasar.

Teman..
Ulang Tahun kali ini memang berbeda. Tuhan mengajarkan sesuatu yang baru. Saya seperti anak burung Rajawali yang sedang dibawa ke langit yang tinggi, dilepaskan, dan dibiarkan untuk belajar terbang. Hanya keyakinan pada-Nya, bahwa Ia akan menangkap saya bila saya tak kuat mengepakkan sayap. Menangkap saya dengan pasti, tak meleset dan kembali mengajarkan saya bagaimana bisa terbang tinggi. Saya tahu pelajaran ini penting agar saya bisa hidup. Hidup di alam yang seharusnya menjadi dunia saya.

Mazmur 90:12
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, 
hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” 






March 26, 2012

Takkan Habis Kasih-Mu pada-ku


Tiada yang seperti Engkau
KasihMu mengubah hidupku
KuasaMu tak berkesudahan
Nyata di dalam hidupku

Tiada yang seperti Engkau
KuasaMu mengubah hidupku
KasihMu tak berkesudahan
Nyata di dalam hidupku

Takkan habis kasihMu bagiku
Mengalir di sepanjang hidupku
Tak berubah setiaMu padaku
Selamanya Kau ku sembah

March 15, 2012

Warming Up (Endless Love)


And I
I want to share
All my love with you
No one else will do...

And your eyes

Your eyes, your eyes
They tell me how much you care
Ooh yes, you will always be
My endless love

Father, We Commit To You Our Lives




God before us, God beside
God within us abide
God in heave and in this place
Father we commit to you this day.

God in pleasure, God in paint
God will ever remain
God in gladness and God in strife
Father we commit to you our lives.

For we know, that you are faithful
Through the stillness and the storm
For you’ve been with us from the start
Father we commit to you our hearts.

March 14, 2012

The Power of Your Love


Lord I come to You
Let my heart be changed, renewed
Flowing from the grace
That i have found in You
And Lord I have come to know
The weakenesses I see in me
Will be stripped away
By the power of Your love

Reff:
Hold me close
Let Your love surround me
Bring me near
Draw me to Your side
And as I wait
I will rise up like the eagle
And I will soar with You
Your Spirit leads me on
In the power of Your love

From This Moment


(I do swear that I'll always be there. I'd give anything
and everything and I will always care. Through weakness
and strength, happiness and sorrow, for better, for worse,
I will love you with every beat of my heart.)

From this moment life has begun

From this moment you are the one
Right beside you is where I belong
From this moment on

From this moment I have been blessed

I live only for your happiness
And for your love I'd give my last breath
From this moment on

I give my hand to you with all my heart

Can't wait to live my life with you, can't wait to start

February 26, 2012

Tiap Langkah-ku Diatur oleh Tuhan


Tiap langkahku diatur oleh Tuhan
Dan tangan kasihNya memimpinku
Di tengah gelombang dunia menakutkan
Hatiku tetap tenang teguh

Reff: tiap langkahku ku tau Tuhan yang pimpin
Ke tempat tinggi kudihantarNya
Hingga sekali nanti aku tiba
Di rumah Bapa surga yang baka

February 23, 2012

Takut, besok akan menangis...


Sedih dengan instrumen 'penilaian' yang datang menghampiri..
Ketika kesatuan hati mulai dipecahkan oleh prasangka dangkal..
Dan jeritan meminta tolong tenggelam dalam kesunyian malam..
Takut besok ku 'kan menangis..

Serangkaian pertanyaan telah membeku..
Yang terlihat jelas hanyalah 'ini saatnya melangkah dalam iman dan harapan'..
Ingin tetap merengkuh pesona-mu selamanya, namun saatnya telah berakhir..
Takut besok ku 'kan menangis..

Kebingungan akan mewarnai batu peringatan pergumulan kehidupan..
Memaksa untuk merangkak lewati jalan retak dan rapuh..
Ingin rasanya membuat kita semua bisa kembali duduk mendengar dengan pengertian..
Takut besok ku 'kan menangis..

Benih waktu telah ditaburkan.. 
Dan telah selesai disiram oleh perbuatan-perbuatanmu..
Membawa panen melimpah dalam rasa hati ini..
Takut besok ku 'kan menangis..

Pengetahuan akan menjadi teman yang mematikan..
Kalau tak pernah menyimpulkan satu set aturan untuk mengendarainya..
Seluruh nasib umat manusia dapat kulihat melalui bingkai ini..
Ingin pergi dan mengusahakan sesuatu.. 

Ku yakin kita terpisahkan karena mimpi.. 
Mimpi yang akan dipakai-Nya untuk membuat-ku semakin mengenal-Nya..
Kita akan bertemu dalam senyuman, di depan yang MAHA TAHU segala hal..
Dan saat itu, aku pun tahu, masing-masing kita telah menyelesaikan hidup dengan baik..
Dan aku tak akan pernah takut untuk menangis lagi..

February 10, 2012

KETIDAKADILAN

 Mengapa ada KETIDAKADILAN?
KETIDAKADILAN ada karena DOSA. Ada ketamakan. Pementingan diri sendiri. Merenggut keuntungan/kelebihan/kekuasaan melebihi yang sewajarnya, sehingga selalu akan ada orang yang dirugikan. Selama masih ada manusia yang tamak, maka ketidakadilan akan terus berputar dalam suatu dimensi kehidupan yang berbeda-beda. Kita selalu akan menemukan pihak yang dirugikan dalam kemasan yang berbeda.

Mengapa harus memperjuangkan dan mengusahakan KEADILAN?
Kita percaya dan menantikan akan ada hari dimana KETIDAKADILAN itu akan dihapuskan dari muka bumi. Ketika sang Raja di atas sgala raja itu datang dan memerintah dunia ini.
Sebagai agen-agen yang membantu mempersiapkan dunia menyambut kedatanganNya, maka memperjuangkan dan mengusahakan KEADILAN adalah kewajiban kita. Memperjuangkan dalam segala aspek kehidupan.

Bagaimana memperjuangkan KEADILAN di tengah dunia yang sedang sakit dan kehilangan standar KEBENARAN?
Yesus telah melakukannya. Yesus telah memberi teladan dan meletakkan dasar bagaimana kita harus memperjuangkan keadilan itu. Dengan cara-Nya. Dengan hati yang diliputi dengan belas kasihan. Belas kasihan memberi suatu perspektif yang baru dalam perjuangan keadilan. Hati yang diliputi kebencian tidak akan menghasilkan apapun. Kita tidak saja berperang melawan fisik manusia yang di dalamnya bersembunyi ketamakan, tetapi melawan roh yang berkuasa dan mengendalikan manusia yang tamak itu. Satu hal yang tidak dipunyai oleh orang yang tamak dan juga roh penyesat yang berdiam di dalam mereka yaitu KASIH. Sangatlah mustahil memperjuangkan keadilan dengan cara kita sendiri. Kita harus memperjuangkan keadilan dengan cara-Nya, itulah perintah-Nya. Karena untuk membawa keadilan dan kebenaran kembali bersemayam di muka bumi hanya masalah waktu Ilahi. 

Bagaimana mungkin memperjuangkan KEBENARAN dan menebas KETIDAKDILAN dengan cara KASIH?
Sangatlah mungkin. Pengharapan akan pemerintahan ALLAH diatas bumi adalah KEPASTIAN. Jika kita percaya akan kedatangaNya, maka kita juga percaya cara ini akan berhasil. Dan cara inilah yang BENAR. Yang dikehendaki-Nya. Merupakan suatu rumus yang baku bahwa untuk memperjuangkan KEBENARAN, kita WAJIB/HARUS memakai cara yang BENAR. Kalau tidak, maka kita hanya akan menambah PENCEMARAN di dunia ini.

Amsal 21:3
Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN 
dari pada korban
Korban sembilihan adalah kewajiban spiritual. Bisa dikatakan dengan bahasa seperti ini: Lebih baik tidak memberikan persembahan. Lebih baik tidak melakukan ritual keagamaan. Lebih baik tidak melakukan apapun untuk TUHAN. Daripada anda dan saya tidak melakukan  kebenaran dan keadilan.

Mazmur 45:4
Dalam semarakmu itu majulah demi kebenaran, perikemanusiaan dan keadilan!
Biarlah tangan kananmu mengajarkan engkau perbuatan-perbuatan yang dahsyat
Majulah dan berjuanglah demi KEBENARAN dan KEADILAN. Dan kita akan melihat bagaimana Allah melakukan perbuatan yang dahsyat melalui kita ketika panji-panji perjuangan itu sedang kita kerjakan dengan spenuh hati.

Efesus 6:14
Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran 
dan berbajuzirahkan keadilan.
Bagian ayat ini ada di dalam perikop perlengkapan rohani yang harus dimiliki oleh semua anak TUHAN yang melayani TUHAN dan mempersiapkan kedatanganNYA. Perlengkapan rohani yang dibutuhkan dalam peperangan di zaman akhir ini.


1 Kor 13:6
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan,
tetapi karena kebenaran
Kalau memang benar kita mengenal hati-Nya maka kita tidak akan bersikap cuek dan malas tahu tentang semua masalah KETIDAKDILAN di dunia ini, di bangsa Indonesia, di kantor, di gereja, dan dimana pun kita berada. Mulailah dengan melakukan KEBENARAN dan KEADILAN dalam setiap aspek kehidupan. Dengan sendirinya anda telah memulai dan mengerjakan KEBENARAN dan KEADILAN untuk dunia ini.

Mungkin dengan merasakan ketidakadilan ini, saya dapat mengerti betapa tidak mengenakkannya suatu KETIDAKADILAN. Sehingga dapat merasakan hati mereka yang hancur ketika tidak merasakan suatu Keadilan.


10 Februari 2012
Memperjuangkan keadilan dengan cara-Nya..