pages

February 21, 2011

LOVE That Will Not Let Me Go

My February… My Valentine.. My Refflection about God’s Love
Bagi saya memasuki tahun 2011 adalah sebuah perjalanan panjang yang akan sangat melelahkan. Dimulai dengan hari pertama di tahun ini terjadi konflik antara saya dengan salah satu anggota keluarga yg sangat dekat untuk sebuah hal yang sepeleh. Dilanjutkan dengan beberapa berita tentang beberapa orang terdekat yang sangat mengecewakan. Berbagai perasaan tak puas dengan hidup dengan cepat mencengkram. Tak puas dengan semua yang sudah kujalani. Tak puas dengan semua kondisi yg ada. Tak puas karena banyak hal tidak berjalan sesuai harapan. Tak puas, tak puas, tak puas…


Ketidakpuasan ini akhirnya menghasilkan suatu penyakit dalam yang serius. Saya mencoba menarik diri sejenak dari semua hal, mencoba mencari waktu tenang untuk kembali mengevaluasi diri.
Menjalani ritme kehidupan di tahun ini sepertinya sangat berat. Saat memasuki bulan Februari ini, saya sempat menikmati satu paket perasaan yang sangat bervariasi. Dimulai dengan datangnya beberapa orang baru yang datang kembali dalam hidup, konsisten berkomunikasi, dan berbagai peristiwa yang terus membawa saya mengerti makna kasih yang lebih mendalam.


Sejak awal bulan Februari, dalam bulan yang disebut sebagai bulan Kasih Sayang ini, saya memang mendoakan untuk bisa merenungkan tentang Kasih Tuhan dalam hidup saya. Saya mengganti profile picture pada account Facebook dengan sebuah gambar lilin yang sedang menyala. Dengan suasana yg hening yang mendeskripsikan bahwa saya ingin kembali merenungkan makna cinta sejati yang Tuhan kerjakan dalam hidup saya. Ingin melihat dan meresapi berkas-berkas sinar kasih yang pernah menjadi bagian dalam hidup saya.


Banyak peristiwa yang membuat saya sangat merasa terpukul, kecewa dan sakit hati. Semua peristiwa itu membuat saya ingin mempertanyakan kepada Tuhan, dengan pertanyan-pertanyaan : Dimana kasihMu pada-ku Tuhan?? Mengapa semua seakan bertambah buruk?? Aku hanya meminta hal sederhana tapi mengapa selama bertahun-tahun justru hal itu yang semakin menghimpit hatiku. Tolong buat aku mengerti mengapa ini harus terjadi..
Yah begitulah pertanyaan-pertanyaan yang coba saya ajukan dalam doa pribadi. Karena sepertinya hati ini mulai menjadi dingin. Serasa ingin ‘memaklumi’ semua yang terjadi tanpa satu pengertian dan penerimaan akan maksud mengapa hal itu harus terjadi. Saya mencoba untuk mengerti dengan pertimbangan di dalam pikiran namun hati ini 100% menolak logika yang ditawarkan oleh pikiran saya.

Dan akhirnya Tuhan mulai merancang dan melakukan beberapa peristiwa yang membuat-ku bisa merasakan kembali hangat KasihNya.
Dimulai dengan tanggal 12 Februari, dengan mempersiapkan sebuah pujian berjudul “Kasih” yang dilantunkan oleh Rio Febrian mengantarkan rangkaian refleksi ini. Kami melantunkan lagu ini di kebaktian Pemberkatan Pernikahan salah satu teman pelayanan. Lirik lagu ini sangat sederhana, kira-kira seperti ini kata-katanya :
Kau datang padaku di dalam hatiku

Kau jamah diriku dalam kelembutanmu

Kasihmu, cintamu, selalu untukku

dan takkan pernah kau meninggalkanku

Kasih setiamu


Kau pelita kakiku penerang jalanku

Dan ku takkan jauh darimu

Sebab dirimu s'lalu ada di dalam hatiku


Saya kembali mengingat peristiwa bagaimana Ia datang dan menjamah hati saya dalam peristiwa 6 tahun yang lalu. Tepat malam tanggal 13 Februari 2005 setelah pulang dari sebuah acara Kamp Mahasiswa, khotbah penutup dari Ibu Magdalena Santoso, seorang Hamba Tuhan di UK Petra terus mengusik saya. Suasana kamar gelap, membuat saya dapat melihat bias cahaya remang-remang lampu 5 watt dari luar kamar. Saya mulai menangis dan cuplikan film kehidupan saya sangat jelas ditayangkan dalam pikiran saya. Maya kecil yang patah hati karena perceraian orang tua, menangis tanpa sebab setiap malam, segala usaha pelampiasan pembuktian eksistensi diri yang bertahan bertahun-tahun akhirnya berakibat KEKOSONGAN dan KEHAMPAAN, dan di akhir cuplikan kehidupan itu, kalimat yang disampaikan Ibu Magdalena kembali berbisik : Hanya Yesus JAWABAN dalam hidup ini. Tidak peduli, sudah berapa tahun anda menjadi Kristen, tapi kalau anda menyadari bahwa IA belum pernah masuk dalam hatimu, maka sekarang juga minta Ia masuk dalam hatimu. Dan akhirnya, saya memutuskan untuk berdoa. Saya berlutut di tengah kamar. Saat itu saya merasakan sebuah kerinduan yang besar kepada Pribadi Tuhan, dan saya mengakui di hadapanNya bahwa saya membutuhkanNya. Saya memohon agar Tuhan bersedia untuk MASUK dan DIAM dalam hati saya. Aliran airmata mengalir tak terbendung dan saya merasakan suatu kelegaan dan sukacita yang amat besar setelah itu..


Lagu ini menyadarkan saya akan peristiwa penting itu,. Ia menjamah hati saya yang rapuh dengan kelembutan kasih-Nya, dan sejak saat itu DIa tidak pernah meninggalkan saya lagi karena Kasih setiaNya tetap tinggal di dalam hati saya.


Hari senin tepat hari Valentine 14 Februari, saya menghabiskan seluruh hari itu di kamar, terbaring lemah karena demam dan diare. Siang itu, saya masih sempat dijenguk oleh kakak rohani Remuz Kmurawak, seorang pemuda biasa dengan Tuhan yang luar biasa hidup di dalam dirinya. Sebelum meninggalkan Surabaya siang itu, ia masih menyempatkan diri mengunjungi kos-kosan kami. Menjelang petang 14 Februari yang lalu, saya betul-betul kritis secara jasmani dan rohani. Mengalami beberapa mimpi buruk dan terbangun lemas membuat saya semakin tenggelam dalam pertanyaan paling BODOH yang pernah ada dalam kamus kehidupan saya. Tuhan, saya merasa tidak dikasihi oleh siapapun di dunia ini. Saya sendirian. Saya kesepian. Saya capek. Apakah Tuhan mengasihi saya?? Dan Tuhan membuat saya mengingat begitu banyaknya orang yang pernah datang dan meninggalkan jejak yang tidak akan pernah hilang dalam hati saya karena kasih mereka bagi saya. Tapi hal itu belumlah dapat membuat saya puas.

Malam Valentine itu, saya didoakan oleh Ivanna Muskananfola, Hestin Klaas, Tirsa Kailola, dan Ester Aritonang. Mereka adalah malaikat-malaikat yang sangat cantik diberikan oleh Tuhan untuk mewarnai dan menyemangati saya. Malam itu, badai perdebatan dalam hati saya berangsur-angsur mereda. Dan malam itu saya dapat tidur dengan lebih tenang.

Tanggal 15 Februari, saya menonton sebuah Film berjudul “Love Comes Softly”. Film yang kembali dipakai Tuhan untuk membuat saya mengerti tentang kebenaran KasihNya. Sebuah kalimat yang sudah sering saya dengar namun entah mengapa, pada saat itu kalimat itu membuat saya menangis karena kesederhanaan kalimat tersebut itu seperti sebuah bisikan lembut dari Tuhan bagi saya. Seperti ini kalimatnya :

The TRUTH of God's LOVE is not that HE allows bad things to happen BUT It's HIS PROMISE that HE will be there with us.


Quote di atas ini menjadi suatu jawaban tentang suatu KASIH yang tidak pernah akan meninggalkan saya. Karena Pribadi dan Janji itu selalu bersama-sama dengan setiap anak Tuhan yang pernah menerima Yesus sebagai TUHAN dan JURUSLAMAT.
Masalah seberat apapun..
Kenyataan sepahit apapun..
Pergumulan selama apapun..
IA berjanji bahwa kita tidak pernah sendirian menghadapi dan menanggung semuanya itu.
IA adalah ALLAH yang selalu bersama kita dan tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian dalam menghadapi segala hal..

--18 Februari 2011--



February 01, 2011

Manusia Jijik, Tuhan Tilik


Beberapa hari lalu, dalam rapat Pengurus Alumni salah satu Yayasan Pemberi Beasiswa untuk anak Indonesia, dimana saya menjadi salah satu anggota pengurus di dalamnya. Saya bertemu dengan seorang wanita yang cukup menarik. Wanita itu berumur sekitar 50an tahun. Ia seorang pendiri beberapa Yayasan-yayasan Sosial. Pertama-kali ia menyapa, saya dapat merasakan aura yang berbeda dari cara –nya melihat. Serasa ada suatu kehangatan dan penerimaan yang tulus dari seseorang yang baru dikenal.

Dalam diskusi, dia lebih diam dan memperhatikan kami berbicara dan sepertinya sedang menganalisa kami lebih dalam berdasarkan pernyataan dan ide-ide yang kami utarakan. Sewaktu makan siang, kami berbincang-bincang dengan-nya tentang sepak terjangnya yang sudah tidak terhitung lagi dalam semangat kepedulian terhadap permasalahan sosial. Yah, saya cepat sekali kagum dengan orang-orang seperti ini. Orang-orang yang secara alami merespon dengan tepat kebutuhan terdalam dari beberapa kelompok-kelompok orang yang diabaikan.

Wanita ini melakukan hal-hal sederhana dengan kepekaan dan pemaknaan yang sangat mendalam. Dia bukan seorang Miss.Universe yang ketika mengunjungi penderita HIV/AIDS akan dikelilingi oleh beberapa kamera di tiga angle berbeda untuk mendapatkan gambar terbaik yang memperlihatkan ekspresi wajah yang tepat. Dia juga bukan seorang politisi, yang pergi mengunjungi warga kurang mampu dan membagikan sembako sambil memberi keterangan kepada pers tentang kebesaran hati yang sedang dilakonkan di depan media. Dia juga bukan seorang tokoh agama yang radikal, yang sedang memberitakan pesan humanis dan kasih kepada khalayak umum. Dia hanyalah seorang wanita sederhana, seorang istri dan seorang ibu rumah tangga yang menemukan arti hidupnya.

Ketika saya mendengarnya bercerita tentang bagaimana ia terlibat dalam suatu Yayasan Transformasi Lepra dan menyuarakan agar kaum penderita Lepra jangan didiskriminasikan lagi oleh masyarakat, saya sangat tersentuh. Saya teringat beberapa hari yang lalu (27-01-2011), saya menerima SMS dari teman saya bernama Christopher Pentury… SMS itu berisi seperti ini :

Matius 8:1-4
Orang yang tidak layak untuk disentuh oleh manusia, dipandang layak untuk disentuh oleh Allah
Terlintas dengan cepat di dalam benak, film pendek tentang Tuhan Yesus yang menghabiskan waktu dan pelayanannya untuk kaum yang termarjinalkan.. 

Ayat 3 : And He reached out His hand and touched him..

Orang kusta dijamah, disentuh oleh-Nya tanpa ada interval waktu berpikir untuk mengolah pemandangan yang menjijikkan tentang si Kusta.. Tidak memikirkan apa kata orang banyak yang melihatNya menyentuh si Kusta yang dalam pengajaran saat itu merupakan orang-orang yang dikutuk karena banyak dosa. Tidak menghiraukan bahkan mengabaikan jika orang lain akan menjauhiNya karena sentuhanNya terhadap si Kusta. TindakanNya hanya digerakkan oleh satu alasan karena di dalam hatiNya tiba-tiba muncul suatu aliran luapan KASIH yang tak dapat tertahankan. Dalam cerita Tuhan menyembuhkan orang Kusta, sentuhan yang dilakukan Tuhan Yesus terhadap penderita kusta tersebut bukanlah sentuhan yang penuh ketakutan tapi tindakan responsif seseorang yang ingin menaruh belas kasihan yang sangat besar sehingga tidak mempunyai ruang kosong untuk mempertimbangkan hal lain.

Dalam pikiran saya tiba-tiba muncul suatu frame memori yang mengingatkan saya kejadian di bulan Desember 2009 yang lalu. Waktu itu, saya menjadi bagian dari rombongan Misi ke daerah pedalaman Kalimantan Barat. Kami melayani di sebuah desa dekat perbatasan Malaysia. Desa itu bernama Desa Tamong. Kami melakukan beberapa pelayanan seperti pelayanan anak, pertanian, pembangunan gereja, perkunjungan dan juga kesehatan. Pada waktu saya terlibat di pelayanan anak, saya sempat bertemu dengan seorang anak Tamong yang sedang menderita sejenis penyakit kulit seperti borok dan sudah berair seperti nanah di sekeliling telinganya. Dengan cepat, saya mengalihkan perhatian saya dari pandangan mengerikan tersebut kepada kerumunan anak-anak yang lain agar pandangan saya tidak tertuju pada daerah bagian telinga anak itu.. Saya sangat malu, sedih dan menyesal.. Mengapa perasaan seperti itu masih betah di dalam diri saya yang mengakunya seorang “wanita Kristiani’.. Wanita yang tahu hati Tuan-nya.. Saya membayangkan seandainya saja saya hidup pada saat Tuhan Yesus yang menghabiskan waktu pelayananNya bersama orang MISKIN dan orang SAKIT, saya akan menjadi orang yang menjauh dariNya, menjadi orang berusaha menghindari orang-orang yang dikasihi-Nya.. Dan yang pasti saya tidak akan tahan mengikutiNya kemana pun Dia pergi.. Karena dari kesaksian Alkitab, kita dapat mengetahui bahwa Tuhan Yesus banyak menghabiskan waktu pelayanan-Nya justru dekat dan bersama orang-orang seperti itu..
Yah.. Lagi-lagi menjadi pendengar memang MUDAH tetapi menjadi pelaku, itu yang SULIT.. 

Frenz,, 
Ketika kita mengaku bahwa kita adalah pengikut-Nya, murid-Nya, anak-Nya,,
Cara hidup dari Tuhan Yesus yang seperti apa yang telah menjadi bagian dalam hidup kita??
Ajaran dari Tuhan Yesus yang manakah yang telah kita usahakan untuk dilakukan dalam keseharian kita??
Sifat dan karakter apakah yang menandakan bahwa Ia adalah Bapa kita dan kita adalah anak-Nya??
Pertanyaan-pertanyaan ini yang harus selalu kita refleksikan sepanjang perjalanan kehidupan kita.. Agar suatu saat ketika waktu itu tiba, Ia mendapati kita menjadi hamba yang setia.. Dan layak untuk masuk dalam Perjamuan Besar Kerajaan Sorga..

Created by Maya Basoeki - Jakarta : January 30, 2011



January 27, 2011

Dana Lu Blesing: The Smell of Rain

Pada malam yang dingin di bulan maret dan angin berhembus di kegelapan malam di Dallas Amerika. Dan seorang dokter melangkah masuk ke dalam ruangan dimana Diana Blesing di rawat. Diana masih merasa pening akibat dari efek operasi. Diana baru saja dioperasi. Suaminya David mengenggam tangannya dan berusaha menahan emosinya atas berita yang baru saja di dengarnya.

Siang itu pada tanggal 10 maret 1991, Diana mengalami komplikasi pada kandungannya. Di usia kandungan baru 24 minggu dia harus menjalani operasi Caesar untuk mengeluarkan bayi di dalam kandungannya.Maka lahirlah anak Perempuan pasangan itu, yang bernama Dana Lu Blesing. Yang hanya 12 inci dan beratnya hanya satu pound sembilan ons (0.86 kg).

Dan perkataan dokter yang lembut rasanya seperti bom bagi mereka. Dokter mengatakan dengan sebaik-baiknya bahwa ia tidak yakin, anak ini akan dapat bertahan.
Hanya ada kemungkinan 10 persen, dia kan melewati malam ini. Dan jika dapat bertahan, hanya ada kesempatan yang sangat kecil dia dapat bertahan, masa depannya akan sangat kejam.

Dengan rasa tidak percaya, David dan Diana mendengarkan apa yang dokter jelaskan tentang sesuatu yang sangat buruk. Dana sangat tidak mungkin untuk selamat.
"Dana tidak akan dapat berjalan, dia tidak akan dapat berbicara, dia kemungkinan akan buta, dan dia pasti akan mudah untuk dapat menderita catastrophic (masalah besar) dari Celebral plasty (idiot) dan penghambatan perkembangan mental dan lain sebagainya.'Tidak mungkin", kata Diana tidak percaya.
Dia dan David suaminya dan anak lelakinya Dustin yang berumur 5 tahun, telah lama mendambakan seorang putri.d di dalam anggota keluarganya..
Sekarang mimpi itu telah terwujud….
Tetapi setelah hari itu berlalu, dan penderitaan baru di dalam keluarga itu. Karena Dana mengalami pertumbuhan system sel saraf yang sangat lambat sehingga cahaya atau sentuhan dapat membuat dia merasa kesakitan ( tidak nyaman), jadi mereka tidak dapat menggendong bayi mungil itu di dada. Dan memberikan rasa cinta yang besar.











Semua mereka lakukan untuk berdoa supaya Tuhan mau berjaga di dekat putri mereka yang berharga, dan dana berjuang sendirian dibawah lampu sinar ultraviolet di dalam incubator.
Mereka tidak melupakan bagaimana dana bertumbuh dan akhirnya menjadi semakin kuat.
Minggu demi minggu berlalu, Dana tumbuh dengan lambat tetapi pasti. Berat dan kekuatannya juga semakin bertambah.
Akhirnya setelah dana berusia dua bulan. Mereka mendapatkan ijin untuk menyentuh dana dengan tangan untuk pertama kalinya.

Dan dua bulan kemudian, dokter memperingatkan dengan lembut kemungkinan yang suram yang akan terjadi, kesempatannya sangat kecil untuk bertahan dan hidup dengan normal.

Semuanya sangat kecil sekali. Dan Dana bisa di bawa pulang dari rumah sakit, seperti yang diinginkan ibunya.
Lima Tahun kemudian, Dana telah menjadi seorang gadis kecil yang mungil dengan mata abu-abunya yang cerah dan semangat hidup yang luar biasa.
Tidak ada tanda-tanda akan mengalami suatu gangguan mental atau fisik yang akan di deritanya. Dia seperti gadis kecil yang normal dengan segala aktifitasnya. Tetapi cerita tidak berakhir disini.
Di suatu siang yang panas, pada musim panas tahun 1996 di dekat rumah mereka di Irving , Texas . Dana sedang duduk di pangkuan ibunya, di sebuah lapangan bola setempat, dimana saudaranya Dustin sedang latihan baseball bersama teamnya,
Seperti biasa, Dana mengoceh tanpa henti kepada ibunya dan beberapa orang dewasa duduk di dekat mereka ketika tiba-tiba Dana terdiam. Dana memeluk tangan ibunya dan merangkulkannya ke tubuh mungilnya. Lalu ia bertanya..
" Mama,… mama mencium sesuatu…?
Mamanya mencoba membaui udara dan berusaha mendeteksi akan mendekatnya badai.
" Ya,… Baunya seperti akan hujan…" Diana menjawab
Dana memandang mata ibunya dan bertanya lagi
" Mama mencium baunya …"
Sekali lagi ibunya mejawab " Ya… saya pikir nanti akan hujan. Karena baunya seperti hujan."
Masih dalam dekapan ibunya, Dana mengelengkan kepalanya dan menepuk pundak ibunya dengan tangan mungilnya. Dengan perlahan dia mengatakan
" Bukan, Baunya seperti DIA…"

Itu baunya TUHAN, ketika kamu medekap ke dadaNYA…
Air mata mengalir ke pipi Diana karena Dana karena kebahagian dan pertolongan sehingga dana dapat seperti anak lainnya.
Sebelum hujan turun, perkataan Dana mengingatkan Diana akan keberadaan Dana dalam keluarga itu, di dalam hatinya selama ini.
Pada saat hari-hari yang panjang di dalam dua bulan pertama kehidupan Dana, ketika system sarafnya sensitive terhadap sentuhan sekalipun. Pada saat Dana tidak dapat di dekapnya di dalam pelukannya sekalipun ibunya sangat menginginkanya.
TUHAN telah mendekap Dana di dalam pelukanNya dan menjaganya. Dan Bau Cinta Tuhan yang telah diingat oleh Dana sangat baik.






--- Disadur dari http://www.truthorfiction.com/rumors/s/smellofrain.htm---



January 24, 2011

Memang tidak mudah tapi jangan berhenti!!

 
Mengayunkan langkah untuk melaju di atas perjalanan padat kehidupan ini 
Sesekali merasa tak mampu untuk mengambil langkah kecil..
1001 pertanyaan yang sangat berat serasa tak mau lepas membebani pundak ini..
Sesekali ingin bebas tanpa sahut-sahutan pertimbangan kompleks yang mengambang di alam bawah sadar.. 
Sekali dua kali ingin mengubah haluan dan berandai-andai mungkinkah ada  jalan lain yang  lebih mudah?? 


Mencoba memandang sekeliling-ku, 
Dan melihat bahwa dunia sedang menertawakan aku dan aku pun mulai tertunduk.. 
Mencoba berpaling dan melihat setapak yang telah kulewati, 
Dan menemukan bahwa jalan ini sangat sepi, mencekam dan tak ingin rasanya untuk kembali..  
Mencoba menatap harapan di ujung jalan sana dan menemukan bahwa diriku hanyalah seorang pengecut.. 
Hanya dapat menutup mata dan menyimpulkan bahwa aku ingin berhenti di titik ini.. 


Saat tetesan airmata kelelahan dan keringat ketakutan berbaur menjadi satu.. 
Aku tak bisa lagi membedakan manakah bagian hatiku yang sedang kecewa dan manakah bagian yang masih terus berharap.. 
Satu persatu rencana kenyamananku dibabat habis oleh ketajaman Kata-kataNya 
Dan aku pun terkejut dengan menemukan bahwa ruang harapan-ku ternyata telah lama kosong.. 


Mereka bilang aku terlalu idealis.. 
Mereka bilang aku pemimpi.. 
Mereka bilang itu pasti tidak mungkin terjadi.. 
Serasa ingin berteriak di depan mereka dan berkata : 
“Kamu tidak tahu sedikit pun tentang masa depan?? IA, pemegang masa depan itu yang menyuruh-ku memilih jalan ini..” 


Sejenak mereka pun diam.. 
Namun kediaman itu membuat-ku melucuti sejuta peluru pertanyaan yang kuarahkan pada Tuhan-ku.. 
Dan dengan merintih aku berkata padaNya : 
Ini terlalu berat.. Ini terlalu sulit bagiku.. 
Aku ingin berhenti di sini. 




------- dan suara itu terdengar berbisik dengan lembut -------


Anak-ku..
Aku ingin kau menikmati perjalanan ini bersama-ku

Angkatlah wajah-mu dan hanya pandanglah wajah-Ku

Kamu akan mengerti pada saatnya..

Ini memang tidak mudah..

Tapi jangan berhenti di sini..


-- Created by Maya Basoeki - Kupang : Januari 1, 2011 --




January 11, 2011

Interest VS Sensitivity


Dalam beberapa waktu belakangan ini, saya sangat terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pikiran : Bagaimana menghubungkan hal yang saya sukai dengan peran sosial yang harus saya ambil di tengah realita masalah sosial yang sangat memprihatinkan seperti ini?? Darimana saya harus memulainya??

Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan.. Pada saat melewati liburan beberapa minggu di kampung halaman (Kupang, NTT), saya bertemu dengan beberapa teman.. Masing-masing dari kami bercerita tentang mimpi-mimpi ke depan.. Beberapa tahun lagi apa yang ingin kami capai dalam hidup. Hanya sedikit sekali orang-orang yang memikirkan porsi tanggung jawab sosial dalam mimpi-mimpinya.. Banyak teman yang hanya memikirkan bagaimana ia berlomba dengan kesempatan bisnis, kesempatan masuk ke panggung politik, kesempatan untuk promosi jabatan dll... Apa yang salah dengan hal itu?? Yah, memang tidak ada yang salah dengan hal-hal itu.. Yang menjadi masalah dan mengusik saya adalah, apakah mereka benar-benar tahu mengapa mereka harus mengejar itu?? Apakah ada alasan yang lebih mendalam daripada hanya sekedar mengejar profil masa depan dan pengakuan eksistensi oleh banyak orang?

Saya memikirkannya.. Dan saya menolak profil masa depan yang kelihatannya menjadi impian banyak orang namun dangkal dalam makna hidup. Hasil yang benderang tapi miskin proses. Pertanyaan-pertanyan  ini muncul dengan sangat kuat sejak beberapa tahun yang lalu.. Beberapa kali, tapi tidak konsisten dan dengan intensitas perasaan yang semakin dangkal. Namun, akhir-akhir ini pertanyaan itu kembali menyayat hati dan saya menemukan diri saya masih terjebak dalam alur teori visi hidup yang menyesatkan.  Merancang banyak hal tentang masa depan. Namun di saat saya mengevaluasi diri, saya menemukan bahwa saya belum melakukan apapun untuk orang lain. Saya belum mengerjakan apa-apa untuk menolong zaman ini. Saya hanyalah pribadi yang mungkin bermanfaat untuk diri saya sendiri,keluarga dan mungkin beberapa teman dekat. Selebihnya, kehadiran saya di dalam dunia dapat dihapuskan dalam sekejap.

Saya merindukan ingin memakai minat, talenta, spirit yang ada untuk mengerjakan sesuatu yang berguna untuk menjawab realita masalah sosial. Dan kemudian saya kembali mengingat suatu perenungan yang pernah dibawakan oleh seorang kakak rohani beberapa bulan yang lalu. Tentang pemaknaan menjalani profesi yang merupakan kesukaan dan kepekaan terhadap realita kehidupan.



Foto di atas adalah hasil jepretan si Kevin Carter, Maret 1993. Ia memutuskan terbang ke Sudan, untuk mengambil foto pemberontak disana, namun disaat mendarat di desa Ayod, Carter memutuskan untuk memotret korban kelaparan, melihat gambaran rakyat Sudan yang kelaparan hingga mati. Ia berjalan menembus semak belukar, ia mendengar rintihan pelan, semakin lama semakin tinggi rintihannya. Ia melihat seorang anak perempuan kecil  yang sedang berjuang merangkak menuju ke pusat makanan. Disaat sang anak membungkuk kelelahan terlihat seekor burung pemakan bangkai di tampilannya. Ia menunggu tampilan terbaik dari burung pemakan bangkai, menunggu selama 20 menit, berharap sang burung melebarkan sayapnya, namun burung tersebut tidak melebarkan sayapnya, sang anak yang hampir mati kelaparan tersebut masih membungkuk di tengah jalan. Setelah Carter mengambil gambar, ia mengejar burung pemakai bangkai tersebut, mengusirnya, dan pergi.

Beberapa hari setelahnya, New York Times membeli foto tersebut, gambar tersebut langsung menjadi icon kesedihan Afrika. Ratusan orang menanyakan kabar anak perempuan kecil tersebut, namun New York Times tidak dapat menjawabnya, karena tidak ada laporan, apakah anak tersebut berhasil sampai ke pusat makanan. Foto ini pun memenangkan penghargaan Pulitzer, penghargaan fotografi tertinggi di dunia. Foto ini menggugah nurani seluruh masyarakat dunia, membuka mata manusia akan kelaparan yang terjadi di Afrika. Kalimat  di atas menunjukkan bahwa, fotografi mampu masuk ke dalam ranah sosial, menunjukkan pada dunia tentang realita sosial yang tertutupi, menampilkan sebuah karya seni yang memiliki nilai, karya seni yang menggetarkan emosi.

Namun dibalik kesuksesan Kevin Carter itu, tidak banyak yang tahu kehidupannya setelah peristiwa tersebut. Carter mendapat tekanan yang cukup besar, karena dianggap hanya sibuk membidik kamera tanpa mengindahkan nasib anak yang bersangkutan. Sayangnya, besarnya tekanan ini membuat Carter, tidak kuat hati. Pada Juli 1994, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan menghirup asap karbonmonoksida. Kondisi sang fotografer fenomenal ini sangat tragis. Di dekat mayatnya, terdapat secarik catatan yang berbunyi: 

"I am depressed ... without phone ... money for rent ... money for child support ... money for debts ... money!!! ... I am haunted by the vivid memories of killings and corpses and anger and pain ... of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners..."
 “Saya depresi.. tanpa telepon.. tanpa uang untuk membayar sewa.. tanpa uang untuk menolong anak-anak.. tanpa uang untuk membayar hutang.. Uang!! Saya dihantui memori yang menakutkan tentang pembunuhan, bangkai, kemarahan, kesakitan, kelaparan atau luka yang dialami para anak-anak…” 

Yah begitulah akhir kisah hidup Kevin, sang fotografer yang berhasil membuat karya fenomenal.. Kalau saja, setelah ia mengambil gambar tersebut dan segera menolong anak kecil tersebut untuk mencapai tempat tersedianya makanan, mungkin ia tidak akan hidup dalam rasa bersalah yang mencekam seperti itu. Menunggu waktu yang tepat untuk mengambil sebuah gambar prestisius namun kehilangan rasa iba terhadap anak kecil yang sedang memperjuangkan kehidupannya.

Bagaimana dengan kita?
Hobby/interest, ambisi, mimpi bisa membutakan kita terhadap setiap peristiwa memilukan yang sedang terjadi di sekitar kita. Ruangan hati kita terlalu banyak dipenuhi oleh keinginan untuk memuaskan kebutuhan diri sendiri tanpa sedikit pun ruang yang tersisa untuk berempati pada orang lain yang tidak mempunyai ikatan fungsional dengan keberadaan kita. Untuk apa semua yang kita kejar? Kalau hanya kehampaan yang akan ditemukan. Kehampaan karena tidak ada kasih di dalamnya.. Kehampaan karena tidak menemukan makna di dalamnya.. Kehampaan karena tidak bersama Tuhan..

Semoga kutipan refleksi yang saya kutip ini, menjadi bahan perenungan untuk teman-teman dan juga saya.. Yang sedang menata masa depan, yang sedang mempertanyakan panggilan hidup, yang sedang mempertanyakan makna kehidupan, yang sedang berusaha menjadi atau mengejar sesuatu..

“I felt very fortunate to live in this part of the world. I promise I will never waste my food no matter how bad it can taste and how full I may be. I promise not to waste water. I pray that this little boy be alleviated from his suffering.
I pray that we will be more SENSITIVE towards the suffering in the world around us and not be BLINDED by our own SELFISH nature and INTERESTS.  I hope this picture will always serve as a reminder to us about how fortunate we are and that we must never ever take things for granted".


January 05, 2011

Surat dari Oma

Surat dari Oma tersayang - Januari 2011


Untuk cucu tersayang.
Dari oma yang selalu merindukanmu.  
Kata-kata dari oma yang paling dalam.
Renungkan dan pikirkan semuanya. 
Karena jodoh adalah pemberian dari Tuhan. 
Dialah pemberi jodoh yang terbaik. 
Semuanya sudah diatur sesuai rencana dan kuasaNya. 
Baca: Amsal/Yeremia 29:11. 
Telepon-nya: Yeremia 33:3. 
Ayat2 Firman Tuhan inilah yang menjadi pegangan dalam perjalanan hidupmu, 
maka engkau akan diberkati oleh Tuhan Yesus. 
Berdoalah dan serahkanlah hidupmu padanya karena Tuhan Yesuslah satu-satunya 
Mutiara Hidupmu dan permata hatimu. 
Bersandarlah padaNya dan berharaplah padaNya maka cucuku akan menerima mahkota yang tidak pernah pudar dan hilang. 
Karena, Ia sudah berjanji: 
Manusia menimbang-nimbang tapi jawaban lidah berasal daripadaNya. 
Dialah sumber segala-galanya. 
Kasih setiaNya tak pernah berubah, baik kemarin, hari ini dan terus selamanya. 
Terpujilah Nama Tuhan: Hallelujah. Amin
Tuhan Allah menyertai dan memberkatimu. Immanuel